Every rule has an exception.
Let us create one for today.
Pemeran utamanya yang maen masih sama si Jason Statham. Saya sudah pernah melihat Transporter yang pertama namun belum sempat melihat yang kedua. Sebenarnya mau melihat yang kedua terlebih dahulu namun malah keburu melihat yang ketiga ini.
Ngga tau bagaimana ceritanya di Transporter 2 ketika melihat Transporter 3 ini ternyata si Frank Martin sudah “pensiun” dari pekerjaannya. Sebenarnya dia mendapat order untuk mengantarkan sesuatu namun ditolaknya dan memberikan sebuah nama sebagai referensi penggantinya.
Martin yang sedang bersantai di rumahnya tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah mobil yang secara brutal masuk ke dalam rumahnya. Selidik punya selidik ternyata yang membawa mobil itu si Malcom (David Atrakchi), orang yang dulu pernah dia referensikan sebagai penggantinya. Sayang sekali Martin tidak bisa mengorek informasi lebih jauh karena Malcom keburu “meledak”.

Dari sini ceritanya mulai bergulir ujung-ujungnya Martin menjalani pekerjaannya kembali secara terpaksa karena memang dia dari awal sudah berniat untuk berhenti. Meneruskan pekerjaan Marcom, kali ini Martin mempunyai tugas untuk membawa seorang anak penjabat pemerintahan Ukraina yang sengaja ditawan oleh seseorang untuk tujuan memeras ayahnya.
Seperti biasa, dalam perjalanannya si Martin selalu membawa mobil Audinya dengan stelan jas maskulin. Cuma bedanya sekarang mobil yang dibawanya dikontrol dan diawasi oleh penjahatnya. Tangannya juga diberi semacam gelang elektrik dimana dia tidak boleh jauh-jauh dari mobilnya. Kalau akhirnya terjadi maka gelang elektrik tersebut akan aktif dan ….boommm.
Saya bilang masih lebih bagus Transporter yang pertama. Di film yang ketiga ini Martin banyak ngomong ngga seperti yang di pertama. Begitu pula dengan cewek pendampingnya, Valentina (Natalya Rudakova), a.k.a anak penjabat Ukraina tersebut, kurang menarik dilihatnya. Udah gitu Martinnya jadi kayak tukang jamu banyak ngecipris ngga cool pendiem.
Pesan dari film Transporter 3 ini adalah usaha untuk menjaga lingkungan dari pencemaran khususnya yang disebabkan oleh bahan kimia atau limbah industri. Beberapa scene terutama ketika kejar-kejaran antara mobil mercy melawan mobil audi cukup seru. Namun rada aneh juga ketika melihat Martin berusaha mengejar mobil audinya dengan mengayuh sepeda ontel.
Overall, saya lebih merasa actionnya daripada thrillernya. Dan sebagai catatan, saya kurang suka dengan endingnya. Entah kenapa kok kesannya si Martin jadi ngga seperti yang dulu lagi, apa perasaan saya aja ya… Tapi bolehlah ditonton sebagai pengisi waktu apalagi kalau anda dari awal sudah pernah melihat Tranporter yang pertama dan kedua.

